Langsung ke konten utama

Penerapan Budaya Positif Sekolah-PGP-SUJIONO-SD INPRES BOMBAN

A. latar Belakang Pendidikan karakter yang menekankan pada berbagai dimensi dalam proses pembentukan pribadi, diharapkan mampu membendung berbagai kemungkinan-kemungkinan negatif yang secara perlahan akan menghilangkan budaya bangsa. Melalui pendidikan karakter diharapkan permasalahan yang timbul dari pergeseran etika dan moral yang dilakukan oleh para generasi muda akan semakin menurun atau bahkan menghilang. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar tercipta sebuah pola hubungan pawongan yang baik, yaitu: Memiliki pemikiran yang universal, sebagai manusia kita harus mampu untuk mengembangankan pandangan yang universal berdasarkan pemahaman pada asas-asas spiritual. Kita tidak akan bisa mendapatkan kemajuan dalam kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih tinggi tentang spiritual melalui pandangan yang sempit. Semua bentuk pemujaan dan meditasi, yang dianggap sebagai praktik spiritual, namun sebenarnya adalah penyimpangan mental bila itu ditujukan untuk menyenangkan pikiran semata. Tuhan digambarkan sebagai ayah, ibu, kakak, teman dan seterusnya. Ketahuilah bahwa kita adalah satu. Kalian ada di dalam Tuhan dan Tuhan ada dalam diri kalian, pencerminan diri kita juga ada dalam diri orang lain. Spiritualitas berarti menyadari penyatuan kita dengan Tuhan, kita dengan ciptaan-Nya yang lain, kita dengan lingkungan. begitu kita mendapatkan keyakinan ini maka berbagai macam sadhana spritual tidak akan diperlukan lagi. Kesatuan ini seharunya tidak hanya konsep intelektual semata itu seharusnya menjadi sebuah realitas hidup. Banyak sekali program yang ditemukan untuk meningkatkan nilai karakter diri para peserta didik, salah satu program yang bisa diterapkan untuk menanamkan pendidikan karakter para peserta didik adalah membiasakan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Program ini merupakan kegiatan yang sederhana, namun memiliki peranan dalam mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesama. B. Tujuan kegiatan ini Adapun tujuan utama dari pelaksanaan ini sebagai bentuk nyata dalam penerapan Budaya Positif di sekolah SD Inpres Bomban 1. Peserta didik dapat menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara dengan guru dan teman-temannya. 2. Dengan senyum peserta didik merasa lebih damai, senang, dan gembira berada di lingkungan sekolah 3. Dengan sapa dan salam mempererat tali persaudaraan dan mencairkan suasana antar sesama Murid 4. pembiasaan sopan dan santun akan terbentuk pribadi yang baik pad amurid SD Inpres Bomban C. Deskripsi Kegiatan Kegiatan awal yang dilakukan dengan membuat kesepakatan dengan murid dan memberikan pemahaman kepada murid dengan memberikan pertanyaan kunci sebagai berikut. 1. Apa yang harus kita lakukan jika kita bertemudengan teman lain atau dengan guru? 2. Apa yang akan kita ucapkan pertama kali kita bertemu dengan orang lain? 3. Bagaimana sebaiknya budaya positif yang dapat diterapkan di sekolah kita Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru akan memancing siswa untuk berpendapat untuk mengusulkan hal-hal yang di harapak ada disekolah. dan diketikan kedalam sebuah powerpoint. Selanjutnya guru meminta kesepakatan untuk menetapkan poin-poin yang sebaiknya di ada dalam budaya positif yang akan diterapkan di sekolah. Selanjutnya berdasarkan kesepakatan yang di sepakati antara maka hal pertama yang dilakukan untuk lebih pengingat kesepakatan yang telah disepakati maka perlu membuat sebuah spanduk/tulisan yang menjabarkan budaya positif sekolah. D. Hasil Aksi Nyata 1. Murid sekolah konsisten membudayakan sapa dan salam ketika bertemu dengan dengan temannya dan kepada bapak/ibu guru di sekolah 2. Murid membudayakan budaya santun ketika berkata dengan teman dan guru baik di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah 3. Terpampangnya Budaya positif sekolah dalam bentuk sapnduk atau tulisan cat di dinding sekolah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMIMPIN DALAM MENGELOLA SUMBER DAYA SEKOLAH

Pengertian pemimpin menurut Suradinata (1997:11) adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Dalam lingkup pendidikan, sekolah merupakan sebuah ekosistem. Sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Unsur-unsur biotik terdiri dari kepala sekolah, guru, staf, pengawas, orang tua, dan masyarakat. Sedangkan unsur abiotik terdiri dari kekuangan sekolah, dan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dimana didalamnya terdapat sebuah pendekatan yang harus digunakan dalam pengembangannya yaitu pendekatan berbasis as...

PEMBELAJARAN YANG MENUNTUN ANAK PGP-ANGKATAN 1-SUJIONO-1.1-AKSI NYATA

A.Latar Belakang Menurut Ki Hadjar Dewantara Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sehingga pendidikan seharusnya diarahkan agar dapat menggali segala potensi yang dimiliki anak. Melalui bimbingan dan pengarahan yang dilakukan oleh pendidik diharapkan siswa dapat menemukan segala potensi yang dimilikinya dalam rangka mencapai impian cita-citanya. Dan sejatinya pendidikan yang dilaksanakan memberikan kemerdekaan dalam belajar kepada siswa dengan memberikan ruang kepadanya dalam melakukan model belajar anak.Bertitik tolak dari pemikiran Ki Hajar Dewantara ada beberapa kesalahan-kesalahan mendasar oleh pendidik yang mungkin tidak disadari. Hal ini juga terjadi pada pembelajaran yang saya lakukan di kelas diantaranya: 1. Tidak ada persiapan ketika mengajar...
KAJIAN KRITIS Dalam buku SAINS untuk siswa Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah kelas 4 karangan Sumiati Sa’adah. Terbitan Titian Ilmu Bandung Tahun 2006. Pada halaman 73 tentang bentuk air dinyatakan sbb : Bisakah kamu menyebutkan bentuk air? Apakah air memiliki bentuk persegi panjang atau bulat? Perhatikanlah air yang ada di dalam gelas! Bagaimana bentuk air di dalam gelas? Sekarang tuangkan air yang ada di dalam gelas tersebut ke dalam botol! Apakah air masih seperti yang ada di dalam gelas atau sudah berubah? Tentunya, air yang dituangkan dari dalam gelas, ke dalam botol, bentuknya akan berubah mengikuti bentuk botol. Air tidak memiliki bentuk. Akan tetapi, bentuk air akan mengikuti bentuk wadahnya. Menurut pendapat saya, bahwa tulisan ibu Sumiati Sa’adah secara konseptual kurang sempurna. Karena menurut teori Jean Piaget, bahwa Perkembangan kognitif anak berlangsung secara teratur dan beraturan sesuai dengan perkembangan umurnya. Pada usia siswa SD/MI kelas 4 yakni...